Bukan Sekadar Monopoli: Kisah Kelam Hak VOC untuk Menebang Tanaman Rempah-Rempah di Maluku

Kalau kita bicara tentang sejarah kolonialisme Belanda di Nusantara, terutama tentang rempah-rempah, pasti yang langsung terbayang adalah monopoli. VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) dikenal sebagai perusahaan yang sangat ketat mengontrol perdagangan cengkih dan pala. Tapi, ada satu kebijakan ekstrem mereka yang seringkali luput dari perhatian, padahal dampaknya sangat menghancurkan. Kebijakan itu adalah hak VOC untuk menebang tanaman rempah-rempah di Maluku. Bayangkan, di era di mana rempah adalah "emas coklat" yang diperebutkan seluruh Eropa, justru ada pihak yang dengan sengaja merusak sumber kekayaan itu. Ini bukan cerita tentang menimbun, tapi tentang menghancurkan. Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi di balik kebijaban yang terdengar begitu irasional itu?

Latar Belakang: Maluku, Surga Rempah yang Jadi Rebutan

Jauh sebelum bangsa Eropa datang, Kepulauan Maluku sudah menjadi pusat perdagangan rempah dunia. Cengkih dari Ternate, Tidore, dan Ambon, serta pala dari Banda, adalah komoditas yang harganya selangit di pasar Eropa dan Asia. Kedatangan Portugis, kemudian Spanyol, dan akhirnya Belanda, mengubah segalanya. VOC, yang didirikan pada 1602, datang dengan satu misi utama: menguasai perdagangan rempah-rempah secara mutlak. Mereka tak ingin sekadar berdagang, mereka ingin memonopoli.

Monopoli ini berarti VOC harus menjadi satu-satunya pembeli dari petani Maluku, dengan harga yang mereka tentukan sendiri, dan satu-satunya penjual ke pasar Eropa. Untuk mencapainya, mereka harus menyingkirkan semua pesaing, baik pedagang Eropa lainnya, maupun pedagang Asia seperti Jawa, Melayu, dan Makassar. Nah, di sinilah masalah mulai muncul. Mengontrol wilayah yang luas dengan ratusan pulau ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar mendirikan benteng.

Perang Harga dan Penyelundupan: Akar Masalah VOC

Meski sudah menandatangani kontrak-kontrak yang mengikat dengan para sultan (yang seringkali dibuat di bawah tekanan), praktek penyelundupan rempah tetap marak. Harga yang ditawarkan VOC kepada petani lokal sangatlah rendah, sementara pedagang lain bisa membayar lebih tinggi. Bagi petani dan penguasa lokal, menjual rempah secara diam-diam kepada pedagang "bajak laut" atau pedagang dari Makassar adalah pilihan logis untuk bertahan hidup. VOC melihat ini sebagai pelanggaran kontrak dan ancaman terhadap monopoli mereka. Mereka butuh cara untuk menekan pasokan agar harga tetap tinggi di Eropa, sekaligus menghukum mereka yang melanggar perjanjian.

Ekstirpasi: Hak VOC untuk Menebang Tanaman Rempah-Rempah di Maluku Adalah Senjata Pamungkas

Inilah konsep yang menjadi jantung dari kekejaman kebijakan ini. Kata "ekstirpasi" sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti mencabut sampai ke akar-akarnya. Dalam konteks VOC, ekstirpasi adalah hak untuk menghancurkan, membakar, atau menebang tanaman rempah-rempah di daerah-daerah yang dianggap melanggar perjanjian monopoli atau di luar wilayah yang ditentukan untuk penanaman.

Hak VOC untuk menebang tanaman rempah-rempah di Maluku adalah instrumen teror ekonomi. Tujuannya multifold:

  • Membatasi Pasokan: Dengan hanya mengizinkan penanaman di pulau-pulau tertentu (seperti Ambon untuk cengkih dan Banda untuk pala), VOC bisa mengontrol jumlah rempah yang beredar di pasaran dunia. Kelebihan pasokan akan menurunkan harga, jadi tanaman di luar area itu harus dimusnahkan.
  • Menghukum dan Meneror: Jika suatu desa kedapatan menjual rempah ke pihak lain, hukuman yang dijatuhkan bukan hanya denda atau penjara, tapi pemusnahan kebun dan sumber kehidupan mereka. Ini adalah pelajaran yang kejam agar yang lain tidak berani melakukannya.
  • Memusatkan Kontrol: Memusatkan produksi di satu wilayah membuatnya lebih mudah diawasi oleh serdadu VOC dari benteng-benteng mereka.

Praktek di Lapangan: Penderitaan Rakyat Maluku

Praktek ekstirpasi ini bukan hanya teori. Ekspedisi hongi adalah manifestasinya yang paling mengerikan. Hongi adalah armada perahu kora-kora yang dipersenjatai, berisi prajurit VOC dan sekutu-sekutu pribumi mereka. Tugas armada ini adalah berpatroli mengelilingi pulau-pulau Maluku. Ketika mereka menemukan pohon cengkih atau pala liar, atau yang ditanam di luar area yang ditentukan, mereka akan menebangnya hingga habis. Seringkali, seluruh kebun dibakar bersama dengan rumah dan lumbung penduduk.

Dampaknya luar biasa traumatis. Rakyat Maluku, yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada rempah-rempah, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian. Kelaparan dan kemiskinan merajalela. Banyak yang terpaksa meninggalkan desa mereka. Yang lebih kejam lagi, VOC juga melakukan pembunuhan massal dan perbudakan, seperti yang terjadi dalam Pembantaian Banda tahun 1621 di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Penduduk asli Banda hampir punah demi digantikan oleh budak-budak perkebunan.

Dampak Jangka Panjang yang Masih Terasa

Kebijakan ekstirpasi dan monopoli VOC meninggalkan luka yang dalam, bukan hanya secara ekonomi, tapi juga sosial dan ekologis.

Kerusakan Ekologi dan Genetik

Pemusnahan besar-besaran tanaman rempah di berbagai pulau Maluku menyebabkan penyempitan keanekaragaman genetik. Cengkih dan pala yang tersisa hanya berasal dari sedikit induk di wilayah yang ditentukan VOC. Selain itu, praktik penebangan dan pembakaran merusak ekosistem hutan setempat. VOC tidak peduli dengan keberlanjutan; yang mereka pedulikan adalah keuntungan jangka pendek dan kontrol mutlak.

Keterbelakangan Ekonomi Struktural

Maluku, yang seharusnya makmur sebagai penghasil komoditas termahal di dunia, justru dijebak dalam sistem ekonomi yang memiskinkan. Mereka dipaksa hanya menanam satu jenis tanaman (monokultur) untuk dijual dengan harga murah kepada VOC. Mereka tidak boleh mengembangkan industri lain atau berdagang dengan siapa pun. Ketergantungan ini menciptakan pola ekonomi eksploitatif yang efeknya masih bisa dirasakan hingga masa setelah kemerdekaan.

Trauma Sosial dan Kultural

Kekerasan yang dilakukan selama ekspedisi hongi dan pembantaian menciptakan trauma kolektif. Hubungan antar kelompok masyarakat di Maluku juga sering dipecah belah oleh politik adu domba VOC (divide et impera). Beberapa kelompok dijadikan sekutu untuk memerangi kelompok lain, menanamkan benih konflik yang kadang masih muncul hingga sekarang.

Refleksi: Monopoli Bukan Hanya Soal Perdagangan

Jadi, hak VOC untuk menebang tanaman rempah-rempah di Maluku adalah lebih dari sekadar klausul dalam kontrak dagang. Itu adalah simbol dari kolonialisme yang paling kejam dan eksploitatif. Ini menunjukkan bahwa VOC tidak ragu untuk menghancurkan sumber daya itu sendiri demi mempertahankan kontrol dan harga. Mereka memperlakukan manusia dan alam hanya sebagai angka dalam ledger pembukuan mereka.

Mempelajari sejarah kelam ini penting bukan untuk menyimpan dendam, tapi untuk memahami akar dari beberapa masalah di Indonesia Timur. Ini juga menjadi pengingat yang kuat tentang betapa berharganya kedaulatan atas sumber daya alam. Ketika suatu bangsa tidak memiliki kendali atas kekayaan alamnya sendiri, maka nasibnya bisa saja seperti pohon cengkih di Maluku abad ke-17: tumbuh subur, tetapi hidupnya selalu di ujung kapak penebang.

Warisan rempah-rempah Maluku seharusnya menjadi cerita tentang kemakmuran dan kejayaan. Namun, bab tentang VOC dalam sejarah itu adalah bab yang diwarnai dengan air mata, api, dan kapak. Dengan memahami kedalaman kebijakan seperti ekstirpasi ini, kita bisa lebih menghargai perjuangan leluhur dan pentingnya membangun sistem ekonomi yang adil dan berdaulat, di mana sumber daya alam menjadi berkat bagi rakyatnya, bukan kutukan.